RESUME
MANAJEMEN KOMUNIKASI DAN ORGANISASI
Guna
memenuhi tugas dari mata kuliah Manajemen Public Relations
Dosen
pengampu : Muhammad Qoyim, S.Sos, M.Si

Disusun Oleh :
Nama : Nurul
‘Azmi Ulil Hidayati
NIM : 121211024
Jurusan
Komunikasi Penyiaran Islam
Fakultas
Ushuluddin dan Dakwah
Itstitut
Agama Islam Negeri
2014
Manajemen Komunikasi dan Organisasi
A. Arti dan Peran komunikasi
Kata komunikasi menurut Onong
Uchjana Effendi (1992: 3), yaitu berasal dari perkataan bahasa latin: communicatio yang berarti
“pemberitahuan” atau “pertukaran pikiran”. Dengan demikian maka secara garis
besar dalam suatu proses komunikasi harus terdapat unsur-unsur kesamaan makna
agar terjadi suatu pertukaran pikiran atau pengertian, antara komunikator
(penyebar pesan) dan komunikan (penerima pesan).
Sementara itu, proses komunikasi
dapat diartikan sebagai “transfer informasi” atau pesan-pesan (messages) dari pengirim pesan sebagai
komunikator dan kepada penerima pesan sebagai komunikan. Tujuan dari proses
komunikasi tersebut adalah tercapainya saling perngertian (mutual understanding) antara kedua belah pihak. Sebelum pesan-pesan
tersebut dikirim kepada komunikan, komunikator memberikan makna-makna dalam
pesan tersebut (decode) yang kemudian
ditangkap oleh komunikan dan diberikan makna sesuai dengan konsep yang
dimilikinya (encode).
Peran komunikasi sangat penting
bagi manusia dalam kehidupan sehari-hari, sesuai dengan fungsi komunikasi yang
bersifat: persuasif, edukatif, dan informatif. Sebab tanpa komunikasi maka tidak
adanya proses interaksi; saling tukar ilmu pengetahuan, pengalaman, pendidikan,
persuasi, informasi dan lain sebagainya. Proses penyampaian informasi/pesan
tersebut pada umumnya berlangsung dengan melalui suatu media komunikasi,
khususnya bahasa percakapan yang mengandung makna yang dapat dimengerti atau
dalam lambang yang sama. Pengertian pemakaian bahasa dapat bersifat kongkret
atau abstrak.
Bila dikaitkan dengan kegiatan
Public Relations, maka sarana komunikasi tersebut adalah hal yang sangat
penting dalam penyampaian pesan-pesan (message)
demi tercapainya tujuan, dan pengertian bersama dengan publik, khalayak
sasarannya.
Dari pernyataan tersebut di atas,
hal ini jelas bahwa praktisi Humas/PR mutlak mempunyai keterampilan dalam
menguasai aspek dan teknis komunikasi, atau unsur-unsur pokok dalam proses
berkomunikasi, yaitu sebagai berikut:
·
Source
·
Message
·
Channel
·
Effect
B. Manajemen Komunikasi
Public relations activity is
management of communications between an organization and its publics.
(Aktivitas public relations merupakan manajemen komunikasi antara organisasi
dan publiknya).
Artinya aktivitas utama Humas,
salah satunya adalahnya melakukan fungsi-fungsi “manajemen komunikasi” antara
organisasi/lembaga yang diwakilinya dengan publik sebagai khalayak sasarannya.
Khususnya dalam usaha untuk mencapai citra positif, menciptakan kepercayaan,
dan membina hubugan baik dengan stake
holder atau audiencenya, dengan kata
lain membangun identitas dan citra korporat (building corporate identity and image). Manajemen komunikasi yang
dilaksanakan dalam suatu aktivitas public relations, dengan methode of communication and state of being
(kelembagaan), yakni yang berkaitan erat dengan beberapa kegiatan utamanya:
1.
Human Relations
Definisi hubungan antara manusia (human relations) dalam praktik manajemen
dapat dilihat dalam arti luas dan pengertian yang lebih sempit.
a.
Human Relations dalam arti luas, ialah
interaksi antara seseorang dengan orang atau kelompok lain, yang menyangkut
hubungan manusiawi, etika/moral, aktivitas sehari-hari. Yang mempunyai tujuan
untuk memperoleh kepuasan bagi kedua belah pihak.
b.
Human Relations dalam arti sempit,
terjadinya suatu interaksi antara seseorang dan orang/kelompok lainnya.
Sedangkan tujuannya adalah untuk penggiatan, dan memotivasi semangat pekerja
(etos kerja) dalam melaksanakan suatu pekerjaan, untuk menciptakan kepuasan
bekerja, sense of belonging (rasa memiliki) yang dikaitkan
dengan peningkatan produktivitas perusahaan.
Prinsip-prinsip dalam human
relations pada suatu lembaga atau pada sebuah perusahaan, yaitu sebagai berikut
:
Ø Importance
of individual
Ø Saling
meneirma (Mutual acceptance)
Ø Standar
moral yang tinggi (High moral standard)
Ø Kepentingan
bersama (Common interest)
Ø Keterbukaan
komunikasi (Open communications)
Ø Partisipasi
2.
Manajemen Komunikasi
Organisasi yang merupakan kerangka
kerja (frame of work) dari suatu
manajeman adalah sesuatu yang menunjukkan adanya pembagian tugas, wewenang dan
tanggung jawab yang jelas antara pimpinan dan bawahan dalam suatu sistem
manajemen modern.
Jabatan pimpinan dalam manajemen
PR/Humas biasanya disebut manajer Humas dan berfungsi sebagai pimpinan
sekelompok karyawan. Dia berwenang untuk membentuk kelompok-kelompok kecil,
mengangkat ketua kelompok dan kemudian membuat mereka bekerja sesuai dengan
tugas dan tanggung jawab masing-masing, yaitu memimpin beberapa orang/karyawan
sebagai tenaga pelaksananya.
Jadi dapat ditarik suatu kesimpulan
bahwa komunikasi dalam sebuah organisasi kekaryaan dapat ditinjau dari dua
aspek, yakni pertama aspek manajamen komunikasi (communication management), dan kedua aspek hubungan antar
manusianya (human relations).
C. Komunikasi dalam Organisasi
Menurut M.T Myers & G.E. Myers,
dalam bukunya Management of Communication
yang diterjemahkan oleh A. Hasymi Ali. Komunikasi memungkin seseorang untuk
mengoordinasikan suatu kegiatan kepada orang lain untuk mencapai tujuan
bersama. Akan tetapi komunikasi tidak hanya sekadar penyampaian informasi/pesan
dan pentransferan makna saja. Komunikasi mengandung arti suatu proses transaksional,
yaitu komunikasi yang dilakukan seseorang dengan pihak lainnya dalam
upaya-upaya mempertukarkan suatu simbol/lambang, dan membentuk suatu makna
serta mengembangkan harapan-harapannya.
Meskipun semua komunikasi
mengandung unsur informasi, tetapi tidak semua informasi mempunyai nilai-nilai
komunikatif. Informasi merupakan sebuah payung atau konsep besar yang meliputi
komunikasi, dengan demikian jelaslah bahwa komunikasi merupakan salah satu tipe
khusus dari informasi. Kesimpulannya, fungsi sesungguhnya dari informasi adalah
untuk mengurangi ketidakpastian dalam suatu sistem komunikasi di suatu lembaga
atau organisasi.
Ada pakar komunikasi yang
berpendapat, untuk menghadapi serbuan informasi yang masuk tanpa mengenal batas
negara (borderless country) di era
globalisasi ini, baik melalui media cetak maupun elektronik, terdapat tiga
teknik yang dapat dipergunakan oleh para pejabat humas. Pertama, mengikuti arus
dengan mengabaikan sikap konsistensi dan lebih akomodatif. Kedua, mencoba untuk
menentang arus secara konfrontatif-emotif atau defentif, dan ketiga adalah
mencari cara untuk mengelola arus informasi tersebut (how to manage of
informations) secara argumentatif-rasional, baik informasi yang masuk (input)
maupun keluar (output) dikaitkan dengan kepentingan yang dapat menguntungkan
bagi posisi atau bermanfaat bagi kepentingan lembaga/organisasi yang
diwakilinya dan termasuk demi kepentingan nasional.
D. Determinasi Masyarakat Informasi
Dikaitkan dengan pembahasan
pengendalian arus informasi tersebut di atas, terdapat mitos ketiadaan ruang,
jarak dan waktu akibat kemajuan teknologi di era globalisasi ini. Sehingga
Alvin Tofler (1988), seorang futurolog menyatakan bahwa abad ke 21 milenium
ketiga akan menjadi abad informasi yang mengglobal dan melanda setiap negara.
Tidak ada lagi batasan teritorial suatu negara, serta tidak ada lagi sesuatu
kejadian yang dapat disembunyikan atau ditutup-tutupi oleh setiap negara
bersangkutan.
Gejala tersebut sudah terlihat,
suatu kejadian atau peristiwa di sebuah negara dengan seketika akan diketahui
oleh pemirsa TV di negara lain melalui berita/informasi yang disampaikan dalam
waktu relatif singkat dan bersamaan, menggunakan sistem satelit berteknologi
tinggi. Hal tersebut menyebabkan masyarakat tidak akan mampu lagi menolak
kebutuhan informasi tersebut. Bahkan cepat atau lambat, informasi akan
menginduksi ke bidang-bidang kehidupan seperti ekonomi, politik, budaya dan
sosial lainnya.
Oleh karena itu, tidak mengherankan
bila Marsal Mc Lucan dalam bukunya Understanding Media (1964), telah meramalkan
bahwa dunia akan menjadi sebuah perkampungan besar (global village). Suatu tempat di mana umat manusia akan hidup dalam
satu perkampungan yang tidak agi terkotak-kotak oleh batas wilayah teritorial
suatu negara, tempat dan waktu. Menurut penulis gejala atau fenomena global
village tersebut akan mengubah wajah dunia menjadi “masyarakat informasi” di
dalam era globalisasi dengan informasi serba terbuka, cepat dan akurat melalui
sistem informasi serba terkomputerisasi.
Alasan lain terjadinya perubahan
pola kehidupan masyarakat internasional, dari masyarakat agraris menuju ke
masyarakat industri (abad 20), kemudian memasuki abad ke 21 akan terjadi
pergeseran lagi, termasuk masyarakat Indonesia tidak terhindarkan menjadi trend
masyarakat informasi yang secra mengglobal akan melanda dunia, sehingga dampak
dari kemajuan teknoogi “abad informasi”.
E. Management By Objective (MBO)
Menurut Frank Jefkins (1992) yang
diranglum dari definisi public relations, bahwa fungsi dan tujuan manajemen
PR/humas untuk menunjang fungsi kegiatan manajemen organisasi perusahaan adalah
berdasarkan mencapai tujuan (objektif) atau disebut dengan management by
objective, secara efisien dan efektif melalui proses komunikasi yang terencana,
baik ke dalam maupun ke luar antarorganisasi dengan publiknya dalam mencapai
tujuan yang spesifik berlandaskan saling pengertian (mutual understanding), dan
saling mendukung (mutual supporting) antarpimpinan dan bawahannya atau
sebaliknya dalam melaksanakan kerja sama suatu tim terkoordinasi secara
objektif dan efektif untuk mencapai sasaran tujuan utama organisasi atau
perusahaan.
1.
Konsep MBO (Management by Objective)
Manajemen Public Relations menurut
Frank Jefkins bahwa metodenya adalah melalui model manajemen berdasarkan
pencapaian tujuan objektif atau dikenal dengan istilah MBO. Sedangkan menurut
Otto Lerbinger yang diktip oeh Effendi (1992), secara umum evaluasi
keberhasilan untuk menentukan kemajuan bidang manajemen PR/Humas berdasarkan
suatu konsep management by objective, yaitu sebagai berikut :
§ Penerapan
motivasi untuk pencapaian tujuan bersama antara pimpinan dan bawahan untuk
memperoleh satu bahasa.
§ Melibatkan
setiap karyawan dan manajer untuk berdiskusi, bersepakat, otonom dengan
mengikat tanggung jawab penugasan, pelaksanaan dan pencapaian tujuan dalam
waktu yang ditentukan secara bersama-sama.
§ Proses
dan pengecekan pelaksanaan perencanaan kerja dilakukan secara bersama-sama
antarpimpinan dan bawahan.
§ Proses
MBO dalam menajemen PR pada suatu manajemen organisasi perusahaan melalui
teknik-teknik pengorganisasian.
2.
Pengertian Management by Objective – MBO
Secara garis besar bahwa pengertian
MBO (Management by objective), merupakan proses di mana manajer tingat bawahan
dan atasan secara bersama-sama mengidentifikasikan tujuan umum organisasi,
termasuk menetapkan kawasan tanggung jawab setiap individu untuk menetapkan
kawasan tanggung jawab setiap individu untuk menetapkan hasil yang diharapkan.
3.
Ciri-ciri Management by Objective
Management by objective (MBO) yang
sering disebut dengan manajemen berdasrkan sasaran, khususnya telah banyak
dipakai dalam model manajemen PR/Humas di berbagai perusahaan masa kini atau
demi kepentingan dalam upaya mencapai tujuan utama organisasi pada umumnya.
Maka ciri-ciri dari model MBO,
yaitu :
a.
Terdapat interaksi antara atasan dan
bawahan.
b.
Pimpinan (manajer) dan karyawan
(bawahan) menentukan bersama sasaran dan kriteria suatu pekerjaan yang akan
dilaksanakan.
c.
Penekanan pada sasaran kerja masa
sekarang dan tujuan hasil masa yang akan datang perusahaan.
d.
Penerapan MBO berdasarkan
prinsip-prinsip “satu langkah ke bawah” dengan melalui proses.
F. Konsep dan Fungsi Manajemen
Komunikasi Organisasi
Pendekatan atau asumsi yang tepat
dan relevan menurut rumusan : Gary Cronkhite dalam bukunya Communication and
Awareness, Cumming Publishing, Co. Inc. California, (1976), ada empat
pendekatan atau asumsi pokok untuk memahami tentang komunikasi, yaitu :
a.
Komunikasi merupakan suatu proses
b.
Komunikasi adalah suatu pertukaran pesan
c.
Komunikasi merupakan interaksi yang
bersifat multidimensional
d.
Komunikasi merupakan interaksi yang
mempunyai tujuan-tujuan atau maksud ganda
1.
Konsepsi Komunikasi
Menurut
H. Anwar Arifin dalam bukunya Ilmu Komunikasi : Sebuah Pengantar Ringkas,
diterbitkan Rajawali Pers (1988), Komunikasi merupakan suatu konsep yang multi
makna, dan oleh karena itu, komunikasi dapat dibedakan berdasarkan sebagai
berikut :
a.
Komunikasi sebagai proses sosial
Peranan
komunikasi dalam proses sosial banyak dikaitkan dengan terjadinya perubahan
sosial (sosial change), misalnya mampu memepengaruhi atau mengubah sikap
tindak, perilaku, dan pola pikir masyarakat, terutama dalam menerima ide,
gagasan, informasi dan teknologi baru. Dalam periklanan yang ditayangkan di
berbagai media massa tersebut diciptakan life style, tren baru bergengsi
dan lain sebagainya yang berpengaruh terhadap pola konsumsi masyarakat.
b.
Komunikasi sebagai peristiwa
Komunikasi
merupakan suatu gejala atau berkaitan dengan suatu peristiwa. Dan karena itu
maka komunikasi dapat dibedakan berdasarkan waktu, lokasi atau kawasan.
c.
Komunikasi sebagai ilmu
komunikasi ini berkaitan dengan etnografi (bahasa)
komunikasi, sosiologi (kemasyarakatan) komunikasi, psikologi komunikasi dan
teknologi komunikasi. Termasuk komunikasi yang berkaitan dengan aplikasinya.
d.
Komunikasi sebagai kiat-kiat dan
ketetampilan khusus
Pengertian
komunikasi di sini adalah dipandang
sebagai skill atau keterampilan tertentu dalam dunia public
relations/Humas.
Informasi
dalam arti luas merupakan suatu konsep global yang dapat menunjukkan berbagai
jenis pola-pola (patterns) yang akan dihadapinya, sedangkan komunikasi dalam
arti sempit menunjukkan salah satu jenis khusus dari pembentuk pola
(patterning), dan dari berbagai macam pola-pola komunikatif (communicative
patterning) dinyatakan dalam bentuk simbol-simbol atau lambang yang diberi
makna tertentu.
2.
Manajemen Komunikasi Organisasi
Salah satu perilaku khas sifat manusia yang
sekaligus membedakannya dengan makhluk-makhluk lain adalah penggunaan
simbol-simbol untuk berkomunikasi antarsesama manusia. Artinya komunikasi
merupakan basis untuk mengadakan kerja sama, interaksi dan menebarkan pengaruh
dalam manajemen organisasi, misalnya dalam hal sebagai berikut :
-
Pengambilan keputusan berdasarkan
informasi yang di terima
-
Menyampaikan informasi yang diperlukan
untuk mengambil keputusan
-
Memegang peranan penting dalam proses
kepengawasan
-
Untuk menetapkan sasaran dan tujuan
Menurut
M. T. Myers & G. E. Myers (1987), fungsi komunikasi sebagai pembentuk pola
suatu tingkat organisasi dapat dianalisis, antara lain sebagai berikut :
a.
Produksi dan pengaturan
-
Menentukan rencana sasaran dan tujuan
-
Merumuskan bidang-bidang masalah
-
Mengoordinasi tugas-tugas secara
fungsional
-
Instruksi, petunjuk, dan perintah untuk
melaksanakan fungsi serta tugas-tugas yang harus dilaksanakan oleh bawahan
-
Mengembangkan sistem prosedur instruksi,
pelaksanaan tugas atau fungsi, dan kebijaksanaan umum perusahaan
-
Memimpin dan mempengaruhi serta untuk
memotivasi bawahan
-
Untuk menilai prestasi karyawan
b.
Sosialisasi dan pemeliharaan
-
Berkaitan dengan yang mempengaruhi harga
diri, kebanggaan, rasa memiliki, dan tanggung jawab dari pihak bawahan
-
Human relations antarpribadi dan
manajemen organisasi
-
Memotivasi untuk menyatukan keinginan
dan tujuan antara individu-individu dengan sasaran dan tujuan pokok perusahaan.
3.
Jaringan Komuikasi
Organisasi
terdiri dari orang-orang yang menduduki suatu posisi atau peranan tertentu. Di
antara orang-orang tersebut terjadi pertukaran pesan/informasi melalui jaringan
komunikasi (comunication networking). Suatu jaringan komunikasi akan berbeda
dalam sistem dan struktur antara satu organisasi dengan organisasi lainnya.
Begitu juga peranan individu dalam sistem
komunikasi ditentukan oleh hubungan struktur antara satu individu dengan
individu lainnya, maka hubungan tersebut akan ditentukan oleh pola hubungan
interaksi individu dengan arus imformasi dalam jaringan sistem komunikasinya.
Menurut
Stephen P. Robbins dalam bukunya, Organization
Behavior: concepts, controversies and aplications. Second Edition,
Prentice-Hall, Inc, Englewood Cliffs, New Jersey, (1983), bahwa dalam organsasi
pada umumnya dikenal dengan lima model jaringan komunikasi, yaitu sebagai
berikut :
a.
Model Rantai (Chain)
Metode jaringan komunikasi di sini
terdapat lima tingkatan dalam jejang hierarkisnya dan hanya dikenal sebagai
sistem komunikasi arus ke atas (upward)
dan ke bawah (downward). Artinya
model tersebut menganut hubungan komunikasi garis langsung (komando) baik ke
atas atau ke bawah tanpa terjadi suatu penyimpangan. Model ini banyak di anut pada jaringan
komunikasi dalam manajemen operasi militer, laporan keuangan (acounting), pembayaran gaji (payroll) dan yang bersifat sanagt kaku.
b.
Model Roda (Wheel)
Sistem jaringan komunikasi di sini
menjadikan semua laporan, instruksi, perintah kerja dan kepengawasan terpusat
satu orang yang memimpin dengan empat bawahan atau lebih.
c.
Model Lingkaran (Cirle)
Model jaringan komunikasi lingkaran
ini, pada semua anggota/staf bisa terjadi interaksi pada setiap tiga tingkatan
hierarki tetapi tanpa ada kelanjutannys pada tingkatan yang lebih tinggi, dan
hanya terbatas pada setiap level.
d.
Model Saluran Bebas (All-channel)
Model jaringan komunikasi sistem
ini merupakan pengembangan model lingkaran (cirle).
Di dalam model ini semua tingkatan dalam jaringan tersebut dapat melakukan
interaksi timbal balik tanpa melihat siapa yang menjadi tokoh sentralnya.
e.
Model Huruf “Y”
Model jaringan komunikasi dalam
organisasi di sini, tidak jauh berbeda dengan model rantai (chain), yaituterdapat empat level
jenjang hierarki, satu supervisor mempunyai dua bawahan dan dua atasan yang
mungkin berbeda devisi/departemen.
Menurut Dr. Arni
Muhammad dalam bukunya yang berjudul Komunikasi
Organisasi, (penerbit Bumi Aksara, Jakarta 1992), menyatakan bahwa dari
hasil analisis jaringan komunikasi tersebut dapat diketahui bentuk hubungan
atau koneksi orang-orang dalam organisasi dengan kelompok tertentu. Dengan
demikian, jaringan komunikasi memilik enam peranan, yaitu :
a.
Opinion Leader
Merupakan pimpinan formal dalam organisasi
yang dapat membimbing tingkah laku, atau sikap tindak para anggota organisasi
dan dapat mempengaruhi keputusan.
b.
Gate Keepers
Individu-individu yang mengontrol
arus informasi di antara anggota organisasi. Gate keepers memiliki kewenangan
memutuskan apakah informasi tersbut penting atau tidak.
c.
Cosmopolites
Fungsi Humas yang merupakan
penghubung suatu komunikasi dengan publik eksternal (community relations) atau lingkungannya.
d.
Bridge
Merupakan anggota kelompok tertentu
dalam suatu organisasi yang menghubungkan kelompok satu dengan kelompok
lainnya.
e.
Liaison
Bukan merupakan anggota kelompok
dan bertindak sebagai penghubung (liaison)
dengan kelompok lainnya.
f.
Isolate
Anggota organisasi yang mempunyai
kontak minimal dengan orang lain dalam suatu organisasi.
4.
Strategi Komunikasi PR
Menurut Cutlip, Center & Broom
(2000:424).
a.
Kredibilitas
Komunikasi itu dimulai dari suasana
saling percaya yang diciptakan oleh pihak komunikator secar sungguh-sungguh.
b.
Konteks
Menyangkut sesuatu yang berhubungan
dengan lingkungan kehidupan sosial,
pesan yang disampaikan harus jelas serta sikap partisipatif.
c.
Isi
Pesannya menyangkut kepentingan
orang banyak/publik sehingga informasi dapat diterima sebagai sesuatu yang
bermanfaat secara umum bagi masyarakat.
d.
Kejelasan
Pesan harus disusun dengan
kata-kata yang jelas, mudah dimengerti, serta memiliki pemahaman yang sama
antara komunikator dan komunikan
e.
Kontinius dan Konsistensi
Komunikasi merupakan proses yang
tidak pernah berarhir, oleh karena itu dilakukan secara berulang-ulang dengan
berbagai variasi pesan.
f.
Saluran
Mempergunakan saluran media informasi yang tepat dan terpercaya
serta dipilih oleh khalayak sebagai target sasaran.
g.
Kapabilitas Khalayak
Memperhitungkan kemampuan yang
dimliki oleh khalayak. Komunikasi dapat efektif apabila memiiki faktor-faktor
yang bermanfaat seperti kebiasaan dan peningkatan kemampuan membaca dan
pengmbangan pengetahuan.
5.
Unsur Permusan Komunikasi Organisasi dan
Komunikator PR
Dalam
hal ini dikenalkan dengan unsur-unsur 7P dalam komunikasi organisasi, yang
dilaksanakan oleh peranan Public Relations sebagai komunikator, yaitu :
a.
People
b.
Process
c.
Plans
d.
Practices
e.
Product
f.
Plant
g.
Publications
6.
Pengolahan Data dan Informasi
Ir.
Kusmartono, D, MPA memberikan definisi tentang data dan informasi : “Data adalah
faktor kadaryang berdiri sendiri-sendiri jika dikumpulkan serta diolah akan
menghasilkan suatu pengertian. Pengertian itu disebut informasi, yang
dimanfaatkan penerimanya guna menambah pengetahuan, pengertian, dan
inteligensinya”.
Data dapat bersifat primer, yaitu data
yang diperoleh dari penelitian lapangan. Data juga dapat bersifat sekunder,
yaitu data yang sudah tersedia dan di peroleh berdasarkan catatan, angka-angka,
statistik, referensi atau kepustakaan dan ain sebagainya.
Prinsip-prinsip pengolahan data dan
informasi, menurut F. Rachmadi :
Ø Data
atau informasi yang terlalu banyak masuk tidak akan mungkin di pelajari oleh
pimpinan/manajemen.
Ø Data
yang dikumpulkan tidak benar, akan menghasilkan informasi yang tidak benar
pula.
Ø Penyajian
informasi tidak konsisten akan dapat menimbulkan salah penafsiran.
Ø Informasi
yang dihasilkan tidak tepat waktu.
Daftar Pustaka
Ruslan, Rosady. 2005. Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.