Senin, 24 Maret 2014

Tafsir Iman Kepada Allah


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Allah telah menciptakan segala sesuatu yang dikendakinya. Di alam raya ini misalnya, dapat dilihat betapa kemaha besaran Allah sebagai Dzat yang Agung. Bagaimana langut ditinggikan (QS 88: 18), daratan dihamparkan (QS 88: 20), makhluk hidup diciptakan (QS 16: 4, 5, 8), Allah menghidupkan (QS 22: 6), Allah mengakhiri (QS 22: 1), dan sebagainya. Ada maksud penciptaan pasti terdapat pula tujuan penciptaan, ada awal penciptaan – ada akhir dari penciptaan tersebut, dan sebagainya.
Umat muslim memiliki kepercayaan (Iman) yang termaktub di dalam rukun Iman agama Islam, yaitu: Iman kepada Allah, Iman kepada Malaikat, Iman kepada Rasul, Iman kepada Kitab-kitab Allah, Iman kepada Hari Akhir, dan Iman kepada Qodlo-Qodar.
Salah satu rukun Iman adalah Iman kepada Beriman kepada Allah. Iman kepada Allah adalah:
  1. Membenarkan dengan yakin akan adanya Allah.
  2. Membenarkan dengan yakin akan keesaan-Nya, baik dalam perbuatan-Nya menciptakan alam makhluk seluruhnya, maupun dalam menerima ibadat seganap makhluk-Nya.
  3. Membenarkan dengan yakin, bahwa Allah bersifat dengan segala sifat sempurna, suci dari segala sifat kekurangan dan suci pula dari menyerupai segal yang baharu (makhluk).

B.       Rumusan Masalah
  1. Ayat Al Qur’an yang mengandung aqidah beriman kepada Allah?
  2. Bagaimana penjelasan (tafsir) ayatnya?
  3. Bagaimana inti atau pelajaran yang dapat diambil darinya?

C.      Tujuan
  1. Untuk menambah wawasan pembaca dalam memahami berbagai aqidah beriamn kepada Allah.
  2. Sebagai referensi tambahan bagi para pembaca tentang aqidah beriman kepda Allah.
  3. Sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Tafsir.


















BAB II
PEMBAHASAN

1.        Al Qur’an surat Ali Imran ayat 51

مُسْتَقيمٌ صِراطٌ  هَذَا فَاعْبُدُوهُ رَبُّكُمْ وَ  رَبِّي اللهَ إِنَّ
Artinya: “Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhan kamu, sebab itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.”

a.        Kata Kunci
وَرَبُّكُمْ رَبِّي اللَّهَ إِنَّ
“Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”. Ini adalah tanda, karena para rasul sebelumnya juga mengatakan demikian, maka kedatangannya dengan membawakan apa yang dibawalan oleh para rasul menunjukkan kenabiannya. Kemungkinan juga bahwa tanda tersebut adalah tanda yang terdahulu.[1]
صِرَاطٌ
kata Shirdth terambil dari kata yang bermakna menelan. sesuatu yang menelan pastilah lebih lebar dari yang ditelan. Jalan yang dinamai shirdth adalah jalan yang lebar, sedemikian lebar sehingga yang berjalan di sana bagaikan ditelan oleh jalan itu.  Jalan itu lebar sehingga dapat meanmpung semua pejalan, dan yang menelusurinya pasti akan sampai ke tujuan. Pemyembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa. serta tuntunan-tuntunan agama pada hakikatnya adalah jalan lebar, yang mudah ditelusuri. Agama adalah jalan yang laus dan lebar itu. Demikianlah agama, ia longgar penuh toleransi dan kemudahan sehingga para penganutnya tidak akan merasa berat dan terdesak oleh tuntunan-tuntunannya. Jalan yang lebar itu pun lurus sehingga jarak menuju tujuan tidak panjang atau berliku-liku.
b.   Tafsir
Pada ayat ini dijelaskan ucapan Nabi Isa as kepada kaumnya bahwa Allah SWT adalah Tuhan mereka bersama-sama yang harus disembah, dan menyembah semata-mata adalah merupakan jalan yang lurus dengan pernyataan keesaan Allah dan pengakuan bahwasannya Allah itu adalah Tuhan alam semesta, karena itu sembahlah Dia.
Inilah dia antara perintah Nabi Isa as kepada kaumnya, supaya mereka mempunyai kepercayaan yang benar yaitu Tauhid, selalu menunaikan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya lahir dan batin. Itulah jalan yang lurus dan lapang yang digariskan oleh para rasul, yaitu jalan yang menuju 1 kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.[2]
“Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia,” Aku dan kalian adalah sama, memiliki kewajiban beribadah kepada-Nya. “Inilah jalan yang lurus,” sesungguhnya bertakwa kepada Allah dan beribadah kepada – Nya, serta menyatakan keesaan-Nya adalah jalan lurus yang tidak ada kebengkokan padanya.
Pada ayat ini ada kaitannya dengan ayat sebelumnya (50). Dengan memperhatikan bahwa Nabi Musa merupakan Bani Israil dan membawa Taurat sebagai kitab samawi untuk mereka. dalam ayat ini (50), Nabi Isa menyatakan kepada masyarakat bahwa aku juga utusan Tuhannya Musa dan aku juga mempercayai kitab-Nya. Aku akan mencabut sebagian perintah Taurat yang telah ditetapkan sebagai hukuman dan sanksi atas dosa – dosa kalian, akan tetapi dengan syarat kalian bertakwa dan mengikuti agamaku yang merupakan agama Tuhan.
Kemudian Nabi Isa memperkenalkan dirinya sebagai hamba Tuhan dan berkata: “Allah SWT adalah Tuhanku dan Tuhan kalian, maka kita semua harus menyembah-Nya dan melangkah di jalan yang lurus dan pertengahan.”



c.    Pelajaran yang dapat diambil

a.       Para utusan Allah, kesemuanya saling menerima kenabian dan kerasulan antara satu dengan lainnya. Setiap Nabi membenarkan kitab dan agama nabi sebelumnya dan menyakininya.
b.      Pengutuasan para nabi merupakan peristiwa ilahi di sepanjang sejarah, bukannya suatu ledakan di suatu tempat atau masa tertentu
c.       Para nabi sebagaimana halnya memiliki wilayah natural dan kekuasaan untuk menguasai alam semesta, juga memiliki wilayah kreasi (syariat) dan menetapkan undnag – undang. walupun demikian, kedua perkara itu harus dengan izin Tuhan.


2.    Al – Qur’an Surat Az – Zummar ayat 14
دِينِي لَهُ مُخْلِصًا أَعْبُدُ اللَّهَ قُلِ
Artinya : Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku”.

a.    Kata Kunci
مُخْلِصًا
Kata mukhlishan terambil dari kata khalusha yaitu yang murni yang telah hilang darinya segala sesuatu yang tadinya mengotori sesuatu itu. Kata ini dapat juga berarti murni walau tidak pernah disetuh oleh kekotoran. Demikian ar – Raghib al – Ashfahani.
الدِّينَ
Menurut Thabathaba’i, kata ad - din dapat juga dipahami dalam arti “tata cara yang ditempuh manusia dalam kehidupan bermasyarakat” dan yang dimaksud dengan perintah beribadah adalah cerminan ketundukan kepada Allah dan ketaatan menempuh jalan yang ditetapkan-Nya. Dengan demikian menurutnya ayat di atas memerintahkan untuk menampakkan ketundukan kepada Allah dalam segala aspek kehidupan dengan mengikuti apa yang disyariatkan-Nya dan dalam segala aspek kehidupan dengan mengikuti apa yang disyriatkan-Nya dan dalam keadaan mukhlish / memurnikan agaama kepada-Nya dan tidak mengikuti selain apa yang disyariatkan-Nya.[3]
b.   Tafsir

Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya agar mengatakan kepada kaumnya bahwa hanya Allah saja yang ia sembah dan hanya untuk-Nya ia memurnikan ketaatan dalam menjalankan urusan agama. Dari ayat ini dapatlah diambil pengertian bahwa dalam melaksanakan urusan keagamaan harus ada garis pemisah yang tegas, tidak boleh dicampuradukkan antara mengesakan Allah dengan mempersekutukan-Nya. Antara yang diperintahkan oleh agama dan mana yang tidak diperintahkan. Dalam urusan akidah dan ibadah tidak ada kompromi, sedang dalam urusan dunia dan kemaslahatan, boleh dipecahkan dengan ijtihad, asal prinsipnya tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Katakan kepada mereka, “Hanya kepada Allah saja aku beribadah, tanpa diiringi kesyirikan dan riya’. Apabila kalian telah mengetahui jalanku tetapi tidak mau mematuhiku, sembahlah tuhan lain sesuka kalian”. Katakanlah pula, “Orang – orang yang merugi segalanya adalah orang – orang yang menyia -  nyiakan diri sendiri dan keluarganya dengan menempuh jalan kesesatan. Camkanlah bahwa penyia – nyiaan diri sendiri itu adalah kerugian yang sempurna dan nyata. ”

Ayat 14 ini mempunyai keterkaitan dengan ayat 11. Dengan ayat ini Tuhan memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW supaya menyampaikan kepada kaumnya, kaum Quraisy itu, tentang pendirian dan akidahnya. Yaitu bahwa dia diperintahkan mengabdi kepada Allah Yang Maha Kuasa, Maha Esa. Seluurh gerak hidup dan perjuangan adalah dari kesadaran, atau dari niat. Dan seluruhnya itu adalah agama, dan tujuannya hanya satu saja, Allah Bersih, suci dan tidak dikotori oleh kehendak – kehendak yang lain. “agamaku kepadaNya semata  - mata.” Dan ini memang telah dijelaskan dalam ayat 2 dari surat az zumar ini di pangkal surat, ketika menerangkan apa maksud ini al – kitab yang diturunkan kepada Nabi SAW. Dan di ayat 3 dijelaskan lagi bahwa “hanya untuk Allah agama yang murni.” Inilah yang sekarang dijelaskan kembali dengan tiada tendeng aling – aling oleh Nabi kepada kaumnya. Meskipun beliau sedarah, sedagang, senenek semoyang seketurunan dengan mereka itu, namun pegangan hudupnya berbeda dengan pegangan hidup mereka. Mereka menyembah berbagai macam berhala, ada al – Latta, ada al – ‘Uzza, ada manusia yang besar dan ada lagi beratus yang lain, namun dia terlepas dari itu samasekali.[4]

Dan di ayat 14 Nabi Muhammad disuruh untuk menjelaskannya sekali lagi:
Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku”.
Bahwa seluruh kegiatan adalah agama dan agama itu hanya semata – mata murni buat Allah, ada persembahan dan pengabdian kepada yang lain.

c.    Pelajaran yang diambil

1.      Orang  bertakwa  akan memetik buah ketakwaannya berupa  kebaikan di dunia dan akhirat.
2.      Orang yang sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan akan mendapat ganjaran dari Allah tanpa batas.
3.      Takwa hendaknya dihiasi dengan sifat sabar menghadapi  cobaan dan rintangan.  Apabila di negeri tempat ia berdiam terhalang kebebasannya dalam melasanakan perintah Allah, hendaklah ia berhijrah ke negeri lain.









BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Surat Ali Imran ayat 51
Inilah dakwah nabi Isa as, yakni sama seperti para nabi dan rasul lainnya, sama – sama mengajak manusia mentauhidkan Allah. Namun kaumnya mendustakan Beliau dan tidak mau beriman. Dalam ayat ini terdapat bantahan terhadap orang – orang Nasrani yang meyakini trinitas, dan bahwa yang demikian bukanlah ajaran Nabi Isa as.
Sebagai orang muslim harus beribadah kepada Allah, bertakwa kepada-Nya dan mentaati Rasul-Nya supaya kita menuju jalan yang lurus jalan yang selalu di ridhoi oleh Allah SWT.

Surat Az Zumar ayat 14
Allah mengutus Rasul untuk  selalu menegakkan agama tauhid, beribadah hanya  kepada Allah, memurnikan ketaatan dalam urusan agama hanya kepada Allah, dan selalu memelihara diri dari melanggar larangan – larangan-Nya.
Orang – orang yang musyrik yang tetap pada kemusyrikannya, akan mendapat siksaan neraka yang paling dahsyat.







DAFTAR PUSTAKA

Departemen Agama RI. 1993. Al – Qur’an dan Tafsirnya . Semarang: CV Wicaksana
Syaikh Muhammad Ali Ash – Shabuni. Shafwatut Tafsir jilid 1. Penerjemah: KH. Yasin. 2011.  Timur: Pustaka Al - Kautsar           
Departeman Agama RI. 2007. Al – Qur’an dan Tafsirnya (Edisi yang disempurnakan). Jakarta: Semarang
Prof. Dr. Hamka. 2002. Tafsir Al Azhar Juz XXIV. Jakarta: Pustaka Panjimas
M. Quraish Shihab. 2006. Tafsir Al – Mishbah volume 12. Jakarta: Lentera Hati


[1] 1Imam, Tafsir Asy-syaukani, Penerjemah: Amir Hamzah Fachruddin, Asep Saefullah, (Jakarta Selatan: Pustaka Azzam,2009)hal366

[2] Departemen Agama, Al-Qur’an dan Tafsrnya, (Semarang: CV. Wicaksana, 1993)hal 581
[3] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Qur’an Misbah Volume 12(Jakarta: Lentera Hati, 2006)hal 180
[4] Prof. Dr. Hamka, Tafsir Al Azhar, (Jakarta: Pustaka Panjimas:2002),

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar