BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Allah
telah menciptakan segala sesuatu yang dikendakinya. Di alam raya ini misalnya,
dapat dilihat betapa kemaha besaran Allah sebagai Dzat yang Agung. Bagaimana
langut ditinggikan (QS 88: 18), daratan dihamparkan (QS 88: 20), makhluk hidup
diciptakan (QS 16: 4, 5, 8), Allah menghidupkan (QS 22: 6), Allah mengakhiri
(QS 22: 1), dan sebagainya. Ada maksud penciptaan pasti terdapat pula tujuan
penciptaan, ada awal penciptaan – ada akhir dari penciptaan tersebut, dan
sebagainya.
Umat
muslim memiliki kepercayaan (Iman) yang termaktub di dalam rukun Iman agama
Islam, yaitu: Iman kepada Allah, Iman kepada Malaikat, Iman kepada Rasul, Iman
kepada Kitab-kitab Allah, Iman kepada Hari Akhir, dan Iman kepada Qodlo-Qodar.
Salah
satu rukun Iman adalah Iman kepada Beriman kepada Allah. Iman kepada Allah
adalah:
- Membenarkan
dengan yakin akan adanya Allah.
- Membenarkan
dengan yakin akan keesaan-Nya, baik dalam perbuatan-Nya menciptakan alam
makhluk seluruhnya, maupun dalam menerima ibadat seganap makhluk-Nya.
- Membenarkan
dengan yakin, bahwa Allah bersifat dengan segala sifat sempurna, suci dari
segala sifat kekurangan dan suci pula dari menyerupai segal yang baharu
(makhluk).
B. Rumusan
Masalah
- Ayat
Al Qur’an yang mengandung aqidah beriman kepada Allah?
- Bagaimana
penjelasan (tafsir) ayatnya?
- Bagaimana
inti atau pelajaran yang dapat diambil darinya?
C. Tujuan
- Untuk
menambah wawasan pembaca dalam memahami berbagai aqidah beriamn kepada
Allah.
- Sebagai
referensi tambahan bagi para pembaca tentang aqidah beriman kepda Allah.
- Sebagai
pemenuhan tugas mata kuliah Tafsir.
BAB
II
PEMBAHASAN
1.
Al Qur’an surat Ali – Imran ayat 51
مُسْتَقيمٌ صِراطٌ هَذَا فَاعْبُدُوهُ رَبُّكُمْ وَ رَبِّي اللهَ
إِنَّ
Artinya:
“Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhan kamu, sebab itu sembahlah Dia.
Inilah jalan yang lurus.”
a.
Kata Kunci
وَرَبُّكُمْ رَبِّي اللَّهَ إِنَّ
“Sesungguhnya Allah,
Tuhanku dan Tuhanmu”. Ini adalah tanda,
karena para rasul sebelumnya juga mengatakan demikian, maka kedatangannya
dengan membawakan apa yang dibawalan oleh para rasul menunjukkan kenabiannya.
Kemungkinan juga bahwa tanda tersebut adalah tanda yang terdahulu.[1]
صِرَاطٌ
kata
Shirdth terambil dari kata yang
bermakna menelan. sesuatu yang menelan pastilah lebih lebar dari yang ditelan.
Jalan yang dinamai shirdth adalah
jalan yang lebar, sedemikian lebar sehingga yang berjalan di sana bagaikan
ditelan oleh jalan itu. Jalan itu lebar
sehingga dapat meanmpung semua pejalan, dan yang menelusurinya pasti akan
sampai ke tujuan. Pemyembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa. serta
tuntunan-tuntunan agama pada hakikatnya adalah jalan lebar, yang mudah
ditelusuri. Agama adalah jalan yang laus dan lebar itu. Demikianlah agama, ia
longgar penuh toleransi dan kemudahan sehingga para penganutnya tidak akan
merasa berat dan terdesak oleh tuntunan-tuntunannya. Jalan yang lebar itu pun
lurus sehingga jarak menuju tujuan tidak panjang atau berliku-liku.
b. Tafsir
Pada ayat ini dijelaskan ucapan Nabi Isa as kepada
kaumnya bahwa Allah SWT adalah Tuhan mereka bersama-sama yang harus disembah,
dan menyembah semata-mata adalah merupakan jalan yang lurus dengan pernyataan keesaan Allah dan
pengakuan bahwasannya Allah itu adalah Tuhan alam semesta, karena itu sembahlah
Dia.
Inilah dia antara perintah Nabi Isa as kepada
kaumnya, supaya mereka mempunyai kepercayaan yang benar yaitu Tauhid, selalu
menunaikan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya lahir dan
batin. Itulah jalan yang lurus dan lapang yang digariskan oleh para rasul,
yaitu jalan yang menuju 1 kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.[2]
“Sesungguhnya
Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia,” Aku dan kalian adalah sama, memiliki kewajiban beribadah
kepada-Nya. “Inilah jalan yang lurus,”
sesungguhnya bertakwa kepada Allah dan beribadah kepada – Nya, serta menyatakan
keesaan-Nya adalah jalan lurus yang tidak ada kebengkokan padanya.
Pada ayat ini ada kaitannya dengan ayat sebelumnya (50).
Dengan memperhatikan bahwa Nabi Musa merupakan Bani Israil dan membawa Taurat
sebagai kitab samawi untuk mereka. dalam ayat ini (50), Nabi Isa menyatakan
kepada masyarakat bahwa aku juga utusan Tuhannya Musa dan aku juga mempercayai
kitab-Nya. Aku akan mencabut sebagian perintah Taurat yang telah ditetapkan
sebagai hukuman dan sanksi atas dosa – dosa kalian, akan tetapi dengan syarat
kalian bertakwa dan mengikuti agamaku yang merupakan agama Tuhan.
Kemudian Nabi Isa memperkenalkan dirinya sebagai hamba
Tuhan dan berkata: “Allah SWT adalah Tuhanku dan Tuhan kalian, maka kita semua
harus menyembah-Nya dan melangkah di jalan yang lurus dan pertengahan.”
c. Pelajaran yang dapat diambil
a. Para utusan Allah, kesemuanya saling menerima kenabian
dan kerasulan antara satu dengan lainnya. Setiap Nabi membenarkan kitab dan
agama nabi sebelumnya dan menyakininya.
b. Pengutuasan para nabi merupakan peristiwa ilahi di
sepanjang sejarah, bukannya suatu ledakan di suatu tempat atau masa tertentu
c. Para nabi sebagaimana halnya memiliki wilayah natural dan
kekuasaan untuk menguasai alam semesta, juga memiliki wilayah kreasi (syariat)
dan menetapkan undnag – undang. walupun demikian, kedua perkara itu harus
dengan izin Tuhan.
2.
Al – Qur’an
Surat Az – Zummar ayat 14
دِينِي لَهُ مُخْلِصًا أَعْبُدُ اللَّهَ قُلِ
Artinya : Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan
memurnikan ketaan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku”.
a.
Kata Kunci
مُخْلِصًا
Kata
mukhlishan terambil dari kata khalusha yaitu yang murni yang
telah hilang darinya segala sesuatu yang tadinya mengotori sesuatu itu. Kata
ini dapat juga berarti murni walau tidak pernah disetuh oleh kekotoran.
Demikian ar – Raghib al – Ashfahani.
الدِّينَ
Menurut
Thabathaba’i, kata ad - din dapat
juga dipahami dalam arti “tata cara yang ditempuh manusia dalam kehidupan
bermasyarakat” dan yang dimaksud dengan perintah beribadah adalah cerminan
ketundukan kepada Allah dan ketaatan menempuh jalan yang ditetapkan-Nya. Dengan
demikian menurutnya ayat di atas memerintahkan untuk menampakkan ketundukan
kepada Allah dalam segala aspek kehidupan dengan mengikuti apa yang
disyariatkan-Nya dan dalam segala aspek kehidupan dengan mengikuti apa yang
disyriatkan-Nya dan dalam keadaan mukhlish / memurnikan agaama
kepada-Nya dan tidak mengikuti selain apa yang disyariatkan-Nya.[3]
b.
Tafsir
Pada
ayat ini Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya agar mengatakan kepada kaumnya
bahwa hanya Allah saja yang ia sembah dan hanya untuk-Nya ia memurnikan
ketaatan dalam menjalankan urusan agama. Dari ayat ini dapatlah diambil
pengertian bahwa dalam melaksanakan urusan keagamaan harus ada garis pemisah
yang tegas, tidak boleh dicampuradukkan antara mengesakan Allah dengan
mempersekutukan-Nya. Antara yang diperintahkan oleh agama dan mana yang tidak
diperintahkan. Dalam urusan akidah dan ibadah tidak ada kompromi, sedang dalam
urusan dunia dan kemaslahatan, boleh dipecahkan dengan ijtihad,
asal prinsipnya tidak bertentangan dengan ajaran agama.
Katakan kepada
mereka, “Hanya kepada Allah saja aku beribadah, tanpa diiringi kesyirikan dan
riya’. Apabila kalian telah mengetahui jalanku tetapi tidak mau mematuhiku,
sembahlah tuhan lain sesuka kalian”. Katakanlah pula, “Orang – orang yang
merugi segalanya adalah orang – orang yang menyia - nyiakan diri sendiri dan keluarganya dengan
menempuh jalan kesesatan. Camkanlah bahwa penyia – nyiaan diri sendiri itu
adalah kerugian yang sempurna dan nyata. ”
Ayat 14 ini mempunyai
keterkaitan dengan ayat 11. Dengan ayat ini Tuhan memerintahkan kepada Nabi
Muhammad SAW supaya menyampaikan kepada kaumnya, kaum Quraisy itu, tentang
pendirian dan akidahnya. Yaitu bahwa dia diperintahkan mengabdi kepada Allah
Yang Maha Kuasa, Maha Esa. Seluurh gerak hidup dan perjuangan adalah dari
kesadaran, atau dari niat. Dan seluruhnya itu adalah agama, dan tujuannya hanya
satu saja, Allah Bersih, suci dan tidak dikotori oleh kehendak – kehendak yang
lain. “agamaku kepadaNya semata - mata.”
Dan ini memang telah dijelaskan dalam ayat 2 dari surat az zumar ini di pangkal
surat, ketika menerangkan apa maksud ini al – kitab yang diturunkan kepada Nabi
SAW. Dan di ayat 3 dijelaskan lagi bahwa “hanya untuk Allah agama yang murni.”
Inilah yang sekarang dijelaskan kembali dengan tiada tendeng aling – aling oleh
Nabi kepada kaumnya. Meskipun beliau sedarah, sedagang, senenek semoyang
seketurunan dengan mereka itu, namun pegangan hudupnya berbeda dengan pegangan
hidup mereka. Mereka menyembah berbagai macam berhala, ada al – Latta, ada al –
‘Uzza, ada manusia yang besar dan ada lagi beratus yang lain, namun dia
terlepas dari itu samasekali.[4]
Dan di ayat 14 Nabi Muhammad disuruh
untuk menjelaskannya sekali lagi:
Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan
memurnikan ketaan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku”.
Bahwa seluruh
kegiatan adalah agama dan agama itu hanya semata – mata murni buat Allah, ada
persembahan dan pengabdian kepada yang lain.
c.
Pelajaran
yang diambil
1. Orang bertakwa
akan memetik buah ketakwaannya berupa
kebaikan di dunia dan akhirat.
2.
Orang
yang sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan akan mendapat ganjaran dari Allah
tanpa batas.
3.
Takwa
hendaknya dihiasi dengan sifat sabar menghadapi
cobaan dan rintangan. Apabila di
negeri tempat ia berdiam terhalang kebebasannya dalam melasanakan perintah
Allah, hendaklah ia berhijrah ke negeri lain.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Surat Ali Imran ayat 51
Inilah dakwah nabi Isa as, yakni sama seperti para nabi
dan rasul lainnya, sama – sama mengajak manusia mentauhidkan Allah. Namun
kaumnya mendustakan Beliau dan tidak mau beriman. Dalam ayat ini terdapat
bantahan terhadap orang – orang Nasrani yang meyakini trinitas, dan bahwa yang
demikian bukanlah ajaran Nabi Isa as.
Sebagai orang muslim harus beribadah kepada Allah,
bertakwa kepada-Nya dan mentaati Rasul-Nya supaya kita menuju jalan yang lurus
jalan yang selalu di ridhoi oleh Allah SWT.
Surat
Az Zumar ayat 14
Allah
mengutus Rasul untuk selalu menegakkan
agama tauhid, beribadah hanya kepada
Allah, memurnikan ketaatan dalam urusan agama hanya kepada Allah, dan selalu
memelihara diri dari melanggar larangan – larangan-Nya.
Orang
– orang yang musyrik yang tetap pada kemusyrikannya, akan mendapat siksaan
neraka yang paling dahsyat.
DAFTAR
PUSTAKA
Departemen
Agama RI. 1993. Al – Qur’an dan Tafsirnya . Semarang: CV Wicaksana
Syaikh
Muhammad Ali Ash – Shabuni. Shafwatut Tafsir jilid 1. Penerjemah: KH.
Yasin. 2011. Timur: Pustaka Al - Kautsar
Departeman
Agama RI. 2007. Al – Qur’an dan Tafsirnya (Edisi yang disempurnakan).
Jakarta: Semarang
Prof.
Dr. Hamka. 2002. Tafsir Al Azhar Juz XXIV. Jakarta: Pustaka Panjimas
M.
Quraish Shihab. 2006. Tafsir Al – Mishbah volume 12. Jakarta: Lentera
Hati
0 komentar:
Posting Komentar